Analisis Pemikiran Mohammad Hashim Kamali Tentang Penghapusan Rajam Dalam Hukuman Perzinaan

Authors

  • Hanif A'la Ilhami UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia(Corresponding Author)
  • Edi Rosman UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.21111/ijtihad.v17i2.10281

Keywords:

Rajam; analisis dalil; Mohammad Hashim Kamali

Abstract

**English**The punishment of stoning (rajm) that agreed upon by Islamic scholars, now faces ongoing rejection particularly in modern times. Mohammad Hashim Kamali, a professor in Islamic law and usul al-fiqh, stands among those who oppose it. This piece aims to delve deeper into Kamali's understanding of the evidence behind stoning punishment, offering analysis and necessary critique. It's a qualitative study, a literature review type, gathering data from books, articles, and related works on Kamali's thoughts regarding stoning, analyzed using an inductive-deductive method. Kamali presents three approaches in rejecting stoning punishment. Firstly, by evaluating and testing the foundations of stoning laws, considering every stoning rationale as doubtful evidence. Secondly, he expands the meaning of doubt (syubhat) as an element found in trial proceedings, incorporating the perpetrator's personality and societal context. The third approach emphasizes repentance in the penal process, advocating for the state to make imposing the death penalty more challenging, providing the individual with an opportunity to improve and reform themselves. The author disagrees with Kamali's ideas. Upon analysis, it's found that Kamali's understanding of the evidence contains several errors. Regarding the expansion of the concept of doubt, it's concluded that Kamali leans towards a Western mindset emphasizing socio-historical approaches in interpreting Sharia law, prioritizing social realities over revelation. Similarly, in terms of repentance, Kamali tends to reject all forms of the death penalty, viewing it as a form of torture, whereas in Islam, such punishment is often symbolized as the highest form of repentance. Furthermore, fundamentally, Hudud punishment cannot be eliminated through repentance. Consequently, this piece concludes that stoning punishment still holds a strong legal **Indonesia**Rajam merupakan hukuman dalam Islam yang disepakati oleh para ulama. Namun, penolakan terhadapnya masih terus bermunculan terutama di zaman modern. Salah satu di antaranya adalah Mohammad Hashim Kamali, seorang profesor di bidang hukum Islam dan ushul fiqh. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut bagaimana pemahaman dalil oleh Kamali terhadap hukuman rajam serta mengajukan analisa dan kritik yang diperlukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian pustaka. Data dikumpulkan dengan cara  membaca buku, artikel dan karya lainnya yang berkaitan dengan pemikiran Kamali tentang rajam dan dianalisis dengan metode induktif-deduktif. Mohammad Hashim Kamali menyampaikan argumen penolakannya terhadap hukuman rajam dengan menggunakan tiga macam pendekatan. Pertama, dengan evaluasi dan pengujian terhadap dalil-dalil yang menjadi dasar hukum rajam. Beliau menilai bahwa setiap dalil rajam sebagai  doubtful evidence (dalil yang penuh keraguan). Pendekatan yang kedua, Kamali memberikan perluasan makna terhadap konsep syubhat sebagai unsur keraguan yang ditemukan dalam proses persidangan, dan bagaimana kondisi kepribadian pelaku dan bagaimana konteks masyarakat.. Pendekatan yang ketiga, adalah Kamali menekankan konsep repentance (pertaubatan) dalam setiap proses pemidanaan, di mana negara harus mempersulit penjatuhan hukuman mati dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki dan mereformasi dirinya sendiri. penulis tidak setuju dengan pemikiran Kamali. Setelah dianalisis, pemahaman dalil yang diajukan Kamali mengandung beberapa kekeliruan. Sedangkan dari aspek perluasan makna syubhat disimpulkan bahwa Kamali memiliki kecenderungan pola pikir Barat yang menekankan pendekatan sosio-historis dalam penafsiran hukum syariah, yang menundukkan wahyu kepada realitas sosial. Begitu pula dalam aspek pertaubatan, Kamali cenderung kepada penolakan segala bentuk hukuman mati dan menilai hukuman sebagai bentuk penyiksaan, padahal hukuman tersebut dalam Islam kerap dilambangkan sebagai bentuk pertaubatan tertinggi. Selain itu, pada dasarnya hukuman hudud tidak dapat dihilangkan karena taubat. Walhasil, tulisan ini menyimpulkan bahwa hukuman rajam tetap memiliki dasar hukum yang kuat sebagai bagian dari syariat Islam.

References

Abbas, Rafid. “Ijtihad Umar Bin Khattab Tentang Hukum Perkawinan Perspektif Kompilasi Hukum Islam.” Al-Hukama’: The Indonesian Journal of Islamic Family Law 4, no. 2 (2014): 474–99. http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/284.

al- Alusi, Mahmud Syukra. Ruh Al-Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur`an Al-Azhim Wa Al-Sab' Al-Matsani. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-'Arabi, 1985.

al- Syaukani, Muhammad ibn Ali ibn Muhammad. Nail Al-Authar Syarh Al-Muntaqa Al-Akhbar. Lebanon: Bait al-Afkar al-Dauliyah, 2004.

al-’ Asqalani, Ahmab ibn Ali ibn Hajar. Fath Al-Bari. Kairo: al-Maktabah al-Salafiyah, n.d.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Risalah Untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: Institut Antarabangsa Pemikiran dan Tamadun Islam (ISTAC), 2001.

Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il. Shahih Al-Bukhari. Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 2002.

Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Kuwait: Dzat al-Salasil, 1983.

Al-Naysaburi, Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi. Shahih Muslim. Riyadh: Dar Thaybah, 2006.

al-Zuhayli, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh. Damaskus: Dar al-Fikr, 1985.

Ibn Rusyd, Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad. Bidayatul Mujtahid Wa Nihayah Al-Muqtashid. Mesir: Mathba’ah Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1975.

Kamali. “Punishment in Islamic Law: A Critique of The Hudud Bill of Kelantan, Malaysia.” Arab Law Quarterly 13, no. 3 (1998): 203–34. https://doi.org/10.1163/026805598125826102.

Kamali, Mohammad Hashim. A Textbook of Hadith Studies: Authenticity, Compilation, Classification, and Critism of Hadith. Leicestershire: The Islamic Foundation, 2005.

———. Crime and Punishment in Islamic Law. New York: Oxford Univeersity Press, 2019.

———. “Death Penalty under Criminal Law and Syariah.” New Straits Times. June 2019.

———. Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: The Islamic Texts Society, 2003.

———. “Stoning As Punishment of Zina: Is It Valid?” Islam and Civilisational Renewal 9, no. 3 (2018): 304–21.

Khallaf, Abdul Wahhab. Ilm Ushul Al-Fiqh. Kuwait: Dar al-Qalam, 1986.

Khumaini, Sabik. “Ijma’ Dalam Persepsi Ulama Ushul Fiqh.” Rausyan Fikr : Jurnal Pemikiran Dan Pencerahan 14, no. 02 (2018). https://doi.org/10.31000/rf.v14i02.915.

Miftachurrozaq, Tahmid, Jannatul Husna, and Waharjani. “Ilmu Hadis Perspektif Mohammad Hashim Kamali Dalam A Textbook of Hadith Studies.” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 21, no. 2 (2022): 175–89.

Miftachurrozaq, Tahmid, Jannatul Husna, and Waharjani Waharjani. “Gagasan Ilmu Hadis Mohammad Hashim Kamali: Sorotan Terhadap A Textbook of Hadith Studies.” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 21, no. 2 (2022): 175. https://doi.org/10.18592/jiiu.v21i2.7160.

Nurwahidah. “Pemikiran Hukum Muhammad Hashim Kamali.” Al-Banjari 6, no. 11 (2007): 39–69. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/al-banjari/article/view/962.

Parray, Tauseef Ahmad. “Tajdid, Islah, and Civilizational Renewal in Islam by Mohammed Hashim Kamali.” American Journal of Islam and Society 37, no. 3-4 (2020): 144–48. https://doi.org/10.35632/ajis.v37i3-4.1942.

Rahmad, Salman Abdullah. “Pemikiran Muhammad Hashim Kamali Dalam ‘Principle of Islamic Jurisprudence.’” FALAH: Jurnal Ekonomi Syariah 2, no. 2 (2017): 236. https://doi.org/10.22219/jes.v2i2.5109.

Ridwan, Muannif, M. Hasbi Umar, and Abdul Ghafar. “Sumber-Sumber Hukum Islam Dan Implementasinya.” Borneo : Journal of Islamic Studies 1, no. 2 (2021): 28–41. https://doi.org/10.37567/borneo.v1i2.404.

Ritonga, A. Rahman. Ushul Fiqh (Perbandingan Antar Mazhab). Bukittinggi: STAIN M. Djamil Djambek Bukittinggi, 1999.

Santoso, Topo. Membumikan Hukum Pidana Islam: Penegakan Syariat Dalam Wacana Dan Agenda. Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Siregar, Fatahuddin Aziz. “Pendekatan Sosiologis versus Normatif Dalam Memahami Hukum Islam: Studi Kasus Pembagian Waris Pada Masyarakat Patrilineal Di Tapanuli Selatan.” In Anotasi Dinamika Studi Gender IAIN Sunan Kalijaga 1995-2003. Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga-CIDA, 2004.

Suraiya, Ratna, and Nashrun Jauhari. “Rekonstruksi Uṣūl Al-Fiqh Muhammad Hashim Kamali (Analisis Metodologis Dalam Perspektif Al-’Aql Al-Uṣūli).” Al-’`Adalah : Jurnal Syariah Dan Hukum Islam 3, no. 3 (November 7, 2018): 204–24. https://doi.org/10.31538/adlh.v3i3.410.

Syarifuddin, Amir. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana, 2011.

Umar, Subehan Khalik, and Mujaddid. “Taarud Al-Adillah Dalam Mukhtalif Al-Hadis Menurut Muhammad Hashim Kamali.” Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah 2, no. 1 (2022): 40–53. https://doi.org/10.24252/ihyaussunnah.v2i1.30691

Downloads

Published

2023-12-01