Hukuman Bagi Peminum Khamr Pada Putusan Pengadilan Negeri Klaten No 148/Pid.C/2018/ PN.Kln Dalam Tinjauan Fiqh Islam (Studi Perbandingan)

Widya Pipit Herawati, Alfiah Rachmawati

Abstract

Abstrak
Saat ini, mungkin banyak orang yang kurang pemahamannya terhadap minuman
keras, baik itu dalam hukum positif maupun hukum Islam. Dan budaya meminum
minuman keras ini bahkan sudah menjadi gaya hidup masa kini untuk mengikuti trend
zaman sekarang, khususnya bagi anak-anak muda yang mengekspresikan kesenangannya
dengan minuman keras, bahkan ada juga yang melampiaskan masalahnya dengan
minuman keras. Sedangkan syariat Islam telah menetapkan ketentuan-ketentuannya
dalam fqh jinayat untuk menuntaskan maslah ini. Kemudian Pengadilan Negeri Klaten
telah menetapkan hukuman atau sanksi bagi peminum khamr dengan membayar denda
ataupun dengan kurungan. Penelitian ini akan mengkaji tentang hukuman bagi peminum
khamr menurut putusan Pengadilan Negeri Klaten No. 148/Pid.C/2018/PN.Kln serta
dalam tinjauan hukum Islam. Penelitian ini adalah penelitian perpustakaan (library
research) dengan menggunakan metode wawancara, dokumentasi, dan riset. Sedangkan
analisa data menggunakan metode komparatif yaitu perbandingan hukum. Hasil dari
penelitian ini meunjukkan bahwa: walaupun syariat Islam atau Fiqh Jinayat tidak mungkin
diimplementasikan di daerah Klaten, akan tetapi sesungguhnya para aparat hukum
sudah berusaha dan berupaya dalam menegakkan setiap peraturan dan hukum untuk
memberantas kasus ini, khususnya Pengadilan Negeri Klaten. Dan mungkin saja setiap
usaha mereka bisa meminimalisir tindak pidana ini di daerah itu. Hukum positif dan syariat
Islam sudah jelas tidak akan bisa disandingkan, karena dasar dan sumbernya saja sudah
berbeda. Meskipun dasar dan teorinya berbeda, akan tetapi memiliki tujuan yang sama,
yaitu untuk menciptakan lingkungan hidup di masyarakat yang beradab, berakhlaq, dan
sehat jasmani maupun rohani. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti memberikan saran,
walapun fqh jinayat Islam tidak bisa diterapkan di Indonesia, khususnya di daerah Klaten,
akan tetapi para aparat hukum harus mendalami ilmu pidana dalam syariat Islam guna
menaati sayriat Islam, karena sesungguhnya jika tidak bisa untuk melakukan semuanya,
maka tidaklah ditinggalkan semuanya, paling tidak sudah berusaha untuk menaatinya.
Maka para penegak hukum hendaknya memiliki pengetahuan yang integral antara hukum
Islam dan hukum positif. Dan penulis berharap semoga kajian ini menambah khazanah
ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi pembaca seluruhnya.
Kata Kunci: Khamr, Hukuman Peminum Khamr


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 11 times
PDF - 30 times

References

Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’ats. “Sunan Abi Dawud”, Damaskus: Dar alRisalah al-’Ilmiyah. 2009.

Al-Bukhari, Muhammad Bin Ismail Abu Abdullah, Shahih Bukhari, (Damaskus

: Daar Ibnu Katsir, 1423 H – 2002 M)

Al-Jaziriy, Abdur Rahman, Kitabul Fiqh ‘Alaa Al-Madzaahib Al-Arba’ah, (Beirut :

Daarul Maktabah Al-‘ilmiyah)

Al-Quran al-Karim

Ash-Shabuni, Muhammad Ali Rawai’ul Bayan Tafsir Ayatul Ahkam, (Damaskus :

Maktabah Ghazali, 1400 H – 2980 M), Hal. 275

‘Audah, Abdul Qadir. “al-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami Muqaranan bi al-Qanun al-Wadh’iy”,

Beirut: Dar al-Kutub al-’Azli. 2008.

Muhammad Bin Ahmad Bin Jizyi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah

Muslim bin Al-Hajaj, Shahih Muslim, (Daar Thayyibah : 1427 H – 2006 M)

Peraturan Daerah Klaten No. 28 Tahun 2002 tentang Minuman Keras / Alkohol

Putusan Hakim No. 148/Pid.C/2018/PN.Kln di Pengadilan Negeri Klaten

Zuhaily, Wahbah, Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuhu, (Damaskus : Daarul Fikr,

H – 1986 M), Cet ke-2

Refbacks

  • There are currently no refbacks.