https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/issue/feedGontor Agrotech Science Journal2026-01-03T22:42:06+08:00Haris Setyaningrumgasj@unida.gontor.ac.idOpen Journal Systemshttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/15121KELIMPAHAN SERANGGA MUSUH ALAMI DAN SERANGGA HAMA EKOSISTEM TANAMAN JAGUNG (Zea mays) PADA FASE VEGETATIF DI KECAMATAN JUNREJO KOTA BATU2025-10-16T11:52:45+08:00I Made Indra Agastyaindra.agastya@gmail.comRetno Wilujengretno.wilujeng@unitri.ac.idDennis Wibowodenniswibowo41@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui kelimpahan serangga musuh alami, dan serangga hama pada ekosistem tanaman jagung (<em>Zea mays</em>) fase vegetative di KEcamatan Junrejo, Kota Batu. Metode penelitian dilakukan dengan Teknik koleksi langsung menggunakan pernagkap <em>yellow pantrap </em>dan <em>pitfall</em>. diamati jumlah populasi serangga, Identifikasi Serangga, kelimpahan serangga, indeks kemerataan dan keragaman serangga. Hasil identifikasi menunjukkan terdapat berbagai jenis serangga yang berperan sebagai musuh alami, hama, maupun ekologi. Secara umum, keanekaragaman serangga yang ditemukan cukup beragam dengan jumlah individu yang bervariasi. Musuh alami yang teridentifikasi di antaranya berasal dari kelompoko parasitoid dan predator, sedangkan hama yang dominan antara lian dari ordo Lepidoptera dan Hemiptera. Indeks keberagaman serangga menunjukkan nilai 2,268 sedangkan nilai indeks kemerataan serangga menunjukkan nilai 0,72.</p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2026 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/14897TEKNIK SEMAI DAN TANAM BENIH LANGSUNG PADA TANAMAN BERMANFAAT (Antigonon leptopus) DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT2025-10-14T14:22:08+08:00Okta Nindita Priambodooktaninditapriambodo@itsb.ac.idRendy Situmorangrendy5tumorang@gmail.com<p>Tanaman Antigonon leptopus merupakan komponen penting dalam strategi pengendalian hama terpadu (PHT) berbasis refugia di perkebunan kelapa sawit, berperan dalam mendukung populasi musuh alami hama. Penelitian ini bertujuan membandingkan dua teknik penanaman A. leptopus, yaitu teknik persemaian (seedling) dan tanam langsung (direct seeding), untuk menentukan metode yang paling efektif berdasarkan daya tumbuh, efisiensi kerja, dan estimasi biaya. Penelitian dilakukan di Desa Bangkalan Melayu, Kalimantan Selatan, dari September 2023 hingga Januari 2024. Hasil menunjukkan bahwa teknik persemaian menghasilkan tingkat daya tumbuh rata-rata sebesar 85,15%, lebih tinggi dibandingkan teknik tanam langsung yang hanya mencapai 63,79%. Hal ini dikaitkan dengan kondisi media tanam terkendali yang mendukung perkecambahan optimal. Namun, teknik persemaian memerlukan waktu, tenaga kerja, dan biaya yang lebih tinggi. Biaya total untuk teknik persemaian mencapai Rp 20.954.064, sedangkan teknik tanam langsung hanya Rp 9.915.664. Meskipun teknik tanam langsung lebih hemat biaya dan cepat, keberhasilannya lebih rendah akibat paparan langsung terhadap kondisi lingkungan ekstrem. Oleh karena itu, pemilihan teknik bergantung pada prioritas antara efektivitas pertumbuhan dan efisiensi biaya. Teknik persemaian direkomendasikan untuk penanaman skala besar yang menekankan keberhasilan pertumbuhan, sementara teknik tanam langsung cocok untuk kondisi dengan sumber daya terbatas atau kebutuhan vegetasi cepat.</p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2026 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/15245RAPID ASSESSMENT: POPULASI LALAT BUAH (Bactrocera sp.) PADA BUDIDAYA CABAI DI KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH2025-11-03T15:34:09+08:00Agus Surotoagus.suroto.unsoed@gmail.comAbdul Mananabdul.manan@unsoed.ac.idEka Oktavianioktaviani@unsoed.ac.id<p>Tanaman cabai (family Solanaceae, kelas Magnoliopsida), yang umum dimanfaatkan buahnya, merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai nutrisi dan farmakologi yang tinggi, serta rasa dan warna yang unik. Kecamatan Sumbang menjadi kecamatan dengan produksi cabai tertinggi di antara 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Namun demikian, ancaman hama dari lalat buah dapat menurunkan hasil panen yang berkisar antara 30-60%, dan dapat mencapai 100% jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman lalat buah (<em>Bactrocera </em>sp.) di lahan budidaya cabai Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode pengambilan sampel <em>purposive random sampling</em>. Koleksi dilakukan pada 19 (sembilan belas) lokasi, yang mewakili desa-desa di Kecamatan Sumbang. Lalat buah dikoleksi dengan atraktan berbahan aktif metil eugenol, selama kurang lebih 24 jam. Hasil identifikasi menemukan sebanyak 4 (empat) spesies lalat buah, yakni <em>Bactrocera dorsalis, B. carambolae, B. umbrosa</em>, dan <em>B. papayae. </em>Spesies <em>B. dorsalis</em> menunjukkan porsi terbesar (47,97%) dari segi jumlah yang dikoleksi dan diidentifikasi, dibandingkan dengan ketiga spesies lainnya. Nilai indeks keanekaragaman berdasarkan Shannon-Weiner menunjukkan kriteria sedang, di angka 1,107. Sementara itu, indeks keseragaman/kemerataan Evennes menunjukkan nilai yang dikategorikan dalam kriteria tinggi. Nilai Chao-1, berada di angka 4, yang menunjukkan estimasi jumlah spesies yang belum ditemukan. Selanjutnya, analisis kemiripan antar lokasi penelitian dengan <em>clustering analysis</em> menggunakan <em>similarity index</em> Jaccard menunjukkan bahwa spesies lalat buah yang dikoleksi dari Kecamatan Sumbang menunjukkan pengelompokan menjadi 6 grup, dengan beberapa kecamatan yang memiliki indeks kemiripan yang tinggi (100%). Penelitian ini menjadi studi awal dalam monitoring hama lalat buah di Kecamatan Sumbang.</p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/15305PENINGKATAN HASIL PRODUKSI EDAMAME (Glycine max (L.) MERRIL) MELALUI APLIKASI UREA BERLAPIS BIOCHAR2025-11-10T11:05:57+08:00Christa Dyah Utamichristadyahutami@polije.ac.idDewi Puspa Arisandidewi.pa@polije.ac.idDevina Cinantya Ananditadevina_cinantya@polije.ac.idAgi Mulyo Jatmikoagymulyo@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi urea berlapis biochar terhadap hasil produksi edamame (<em>Glycine max</em> (L.) Merril). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–September 2025 di Dukuh Lengkong, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non-faktorial dengan lima perlakuan, yaitu: P1 = urea tanpa berlapis biochar (200 kg/ha); P2 = urea berlapis biochar (1:1) (100kg/ha : 100kg/ha); P3 = urea berlapis biochar (1:2) (75kg/ha : 125kg/ha); P4 = urea berlapis biochar (1:3) (50kg/ha : 150kg/ha); P5 = urea berlapis biochar (1:4) (25kg/ha : 175kg/ha), tiap perlakuan terdapat 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi urea berlapis biochar berpengaruh nyata terhadap jumlah polong/tanaman, bobot polong/tanaman, dan bobot 100 biji, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering/tanaman. Perlakuan P5, yaitu urea berlapis biochar (1:4) (25 kg/ha : 175 kg/ha) memberikan hasil tertinggi pada parameter pengamatan jumlah polong/tanaman (37,84 buah); bobot polong/tanaman (79,84 g); dan bobot 100 biji (81,24 g). Peningkatan hasil ini diduga karena biochar tongkol jagung memiliki kemampuan menyerap dan menahan nitrogen sehingga pelepasannya berlangsung lebih lambat dan efisien. Nitrogen akan mendukung pembentukan organ vegetatif seperti daun dan cabang produktif yang berperan dalam pembentukan polong.</p> <p><strong>Kata Kunci: <em>Biochar, Edamame, Hasil, Urea </em></strong></p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/14708PENGARUH POPULASI TANAMAN DAN PUPUK CAIR TERHADAP KOMPONEN HASILKACANG HIJAU (Phaseolus radiata L.) VARIETAS LOKAL SABU 2025-06-29T14:02:14+08:00Maria Klara Salliarie.salli@yahoo.comYosefina lewarmaria.klara.salli@gmail.comMasriamaria.klara.salli@gmail.com<p>Kacang hijau merupakan tanaman pangan penting sebagai penghasil protein. Salah satu sentra produksi kacang hijau yaitu di pulau Sabu, sebagai penghasil kacang hijau berbiji hitam. Penelitian telah dilakukan dari bulan Maret - Oktober 2020, di kebun praktek Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering, Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah populasi yang tepat, jenis pupuk cair yang tepat serta pengaruh interaksi keduanya terhadap komponen hasil kacang hijau varietas local Sabu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan factor populasi Tanaman (P) dengan 3 level perlakuan yaitu populasi tanaman 250.000/ha (P1), populasi tanaman 200.000/ha (P2) dan populasi tanaman 166.666/ha (P3) dan Jenis Pupuk Cair (PC) dengan 3 taraf perlakuan, yaitu Tanpa pupuk cair (PC1) (Pupuk NPK Plus), Pupuk Nasa (PC2), Pupuk Green Tonik (PC3) dan pupuk ABG (PC4). Perlakuan di tempatkan secara secara acak. Variabel yang di amati adalah berat polong (gr), jumlah polong, , bobot 100 butir biji (gr), hasil biji/tanaman (gr) dan hasil biji/peta percobaan (gr). Analisis data menggunakan analisis Varians dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian adalah varietas kacang hijau local Sabu yang ditanam dengan populasi tanaman 166.666/ha dan 250.000/ha memberikan produksi biji perpetak tertinggi. Penggunaan berbagai pupuk cair berpengaruh tidak nyata terhadap komponen hasil kacang hijau varietas lokal Sabu dan populasi 166.666/ha dan pupuk , NPK memberikan produksi biji tertinggi dan tidak berbeda dengan kombinasi dg POC Nasa dan POC ABG</p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/15437INTEGRASI ROTASI TANAMAN DAN PERIODE KRITIS PENGENDALIAN GULMA GUNA MENINGKATKAN RESILIENSI EKOLOGIS DAN STABILITAS HASIL 2025-12-15T21:14:41+08:00Bela Tri Wijayantibelawijayanti@staff.uns.ac.idQaanitatul Hakim Ipaulleqaanitatulhakimipaulle@unida.gontor.ac.idAulia Adillahaulia.adillah@staff.uns.ac.id<p><em><span style="font-weight: 400;">Meeting global food demands amidst climate volatility and resource scarcity has historically driven agricultural intensification. However, this pursuit of maximized yields through continuous monoculture and high agrochemical inputs has precipitated severe ecological costs, including biodiversity erosion, soil degradation, and heightened vulnerability to biotic stressors. While Sustainable Land Management (SLM) offers a restorative framework, its core principle of minimal soil disturbance often exacerbates weed pressure, creating a trade-off between ecological preservation and crop productivity. </span></em><em><span style="font-weight: 400;">This extensive review consolidates systematic literature from 2000 to 2024 to critically assess the combined impact of Crop Rotation and the Critical Period of Weed Control (CPWC) in effectively addressing this agronomic challenge.</span></em><em><span style="font-weight: 400;"> The analysis demonstrates that crop rotation serves as the ecological foundation, restoring soil multifunctionality, restructuring microbial networks, and disrupting pest cycles. Complementing this, the CPWC functions as a vital tactical tool for precision management, allowing farmers to restrict weed interventions to specific phenological windows. This integration minimizes soil disturbance and chemical reliance without compromising harvest outcomes. The review concludes that coupling the systemic resilience of crop rotation with the management efficiency of CPWC offers a robust pathway for sustainable intensification, effectively balancing long-term ecological integrity with the imperative of yield stability.</span></em></p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2026 Gontor Agrotech Science Journalhttps://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/agrotech/article/view/15184TANAMAN PENUTUP TANAH SEBAGAI STRATEGI AGROEKOLOGI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN KONSERVASI LINGKUNGAN PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT: A REVIEW2025-10-14T14:40:22+08:00Sabila Awanissabilaawanis1998@gmail.comTyas Puspita Oktavianityas.puspita@unsoed.ac.id<p>Oil palm (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) is a strategic commodity that contributes significantly to Indonesia’s economy. However, intensive cultivation practices in oil palm plantations have led to negative environmental impacts such as soil degradation, erosion, and biodiversity loss. This study aims to examine the role of cover crops in supporting the sustainability of oil palm plantations through a Systematic Literature Review (SLR) approach. The reviewed literature was sourced from scientific databases between 2015 and 2025, focusing on weed management, soil fertility improvement, and environmental conservation. The findings indicate that cover crops from the Leguminosae family, such as <em>Mucuna bracteata</em>, <em>Pueraria javanica</em>, and <em>Centrosema pubescens</em>, play a significant role in suppressing weed growth through light competition, allelopathic compound release, and provision of habitats for natural predators. Moreover, cover crops have been shown to improve soil fertility through nitrogen fixation, increased organic matter, and enhanced microbial activity, which collectively improve soil structure and water retention. The establishment of cover crops also reduces erosion rates, enhances infiltration, and maintains soil moisture. Nevertheless, field implementation still faces technical and socioeconomic challenges such as nutrient competition, high initial costs, and limited farmer knowledge. Overall, the adoption of cover crops aligns with the principles of the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) and the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), contributing to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) 13 and 15. This study recommends the integration of digital technologies to support sustainable oil palm plantation systems in Indonesia.</p>2026-01-03T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Gontor Agrotech Science Journal