Konsep Kebenaran Ibnu Sina

Imron Mustofa

Abstract


Kebenaran merupakan suatu kemutlakan yang harus dicapai oleh manusia. Karena dalam kebenaran terdapat unsur dari ciri sifat naluri manusia; mencari, mengerti dan memahami. Tanpa kebenaran, kehidupan kemanusiaan akan kehilangan salah satu alat pengukur nilai kemanusiaan itu sendiri. Masalahnya kemudian, standar sebuah kebenaran menjadi rebutan antara ideologi yang lahir dari pemikiran manusia. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk menelisik lebih dalam tentang konsep kebenaran, bagaimana proses hadirnya sebuah kebenaran, apa sebab munculnya kebenaran itu. Melihat begitu luasnya bahasan tentang teori kebenaran, maka pada tulisan ini, penulis hanya memfokuskan penelitiannya pada teori kebenaran dari salah satu filsuf Muslim terkemuka, Ibnu Sina. Sebagai filsuf besar Islam, Ibnu Sina memiliki konsep epistemologi yang cukup matang, sehingga pemikirannya sangat layak untuk dikaji. Adapun terkait dengan teori kebenaran, Ibnu Sina memiliki pandangan yang cukup menarik terhadapnya. Menurut Ibnu Sina, kebenaran tertuang dalam pemikiran filsafat yang ia sebut sebagai hikmah. Ia membaginya dalam dua konsep utama. Di samping itu, ia juga menjelaskan kaitan kebenaran dengan filsafat yang dibangun atas tiga alasan penting. Hal lain yang akan dipaparkan dalam makalah ini adalah kaitan kebenaran dengan konsep akal, yang dalam istilah Ibnu Sina disebut dengan kamāl al-awwal. Terakhir, kajian ini juga membahas kaitan intuisi dengan teori kebenaran, dimana Ibnu Sina menyebut istilah intuisi dengan beberapa terma, seperti ma’rifah, taḥṣīl, danmulāḥaẓah.

Keywords


Ibnu Sina; Kebenaran; Akal, Intuisi; Kamāl; al-Awwal; Taṣawur; Taṣdīq

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21111/klm.v1i15.818

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Creative Commons License
Kalimah is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats